fasbuk

Sabtu, 23 April 2011

Ranah 3 Warna(NOVEL)

Ranah 3 Warna


Judul : Ranah 3 Warna
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penulis : Ahmad Fuadi
Tebal : xiii + 473 Halaman
Tanggal terbit :Januari – 2011
Jumlah Halaman:471
Jenis Cover: Soft Cover
Text :Bahasa Indonesia
Genre :Edukasi, Religi, Roman
Ilustrator: Doddy R. Nasution
Seniman sampul :Slamet Mangindaan

RESENSI
Novel kedua ini merupakan tongkat estafet dari hikayat novel pertamanya dari Ahmad Fuadi. Sebelumnya, pada novel Negeri 5 Menara, pembaca seakan “dibakar” dan dikucur oleh aliran hikmah pada sebuah pengalaman atmosfir pendidikan yang sangat inspiratif. Dimana salah satu pesan utama yang ditonjolkan adalah sebuah kalimat penggugah tekad “man jadda wajada“, yakni sebuah pepatah Arab yang berarti “siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses“.
Selain itu, pengalaman para tokoh di novel tersebut mengajarkan mereka dan juga pembaca setianya bahwa apa pun dapat diraih selama didukung oleh usaha dan doa. Novel yang mendapatkan penghargaan sebagai Nominasi Khatulistiwa Literary Award 2010, penulis dan fiksi terfavorit, serta anugerah pembaca Indonesia 2010 tersebut, menekankan kepada kita semua bahwa jangan pernah meremehkan setiap mimpi, karena setinggi apa pun mimpi kita, sungguh akan didengar oleh Tuhan yang Maha Menggenggam setiap mimpi-mimpi para insan ciptaan-Nya.
Lantas, hikayat apa yang muncul dalam novel Ranah 3 Warna ini ? Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Apa impiannya ? Sangat tinggi. Ia ingin belajar teknologi tinggi di kota Bandung seperti Prof. BJ Habibie, sang mantan presiden ketiga di negeri ini. Bahkan ia ingin merantau sampai ke benua Amerika. Dengan semangat menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera meneruskan pendidikan ke bangku kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan dirinya mampu lulus UMPTN. Ia sadar, ada satu hal penting yang tidak ia miliki. Ijazah SMA. Ya, bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tersebut tanpa ijazah.
Terinspirasi dari semangat tim dinamit Denmark, dia mencoba mendobrak rintangan berat. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah segera menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya. Sampai kapan dia harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini. Hampir saja dia menyerah.
Rupanya “mantra” man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidupnya. Alif teringat “mantra” kedua yang diajarkan di Pondok Madani, yaitu man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia akhirnya bertekad untuk menyongsong badai hidup satu persatu.
Bisakah Alif memenangkan semua impiannya ? Kemana nasib akan membawanya ? Apa saja tiga ranah berbeda warna tersebut ? Siapakah Raisa? Bagaimana pula persaingannya dengan Randai ? Serta bagaimanakah kabar Sahibul Menara ? Mengapa sampai muncul Obelix, orang Indian, Michael Jordan dan Kesatria Berpantun ? Apa hadiah yang diberikan Tuhan untuk sebuah kesabaran yang kukuh ? Semuanya akan terjawab di buku kedua karya Ahmad Fuadi ini.
Ranah 3 Warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa. Ya, Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar. Ditulis oleh Ahmad Fuadi, seorang mantan wartawan, penerima delapan beasiswa luar negeri dan pencinta fotografi. Penulis pernah tinggal di Kanada, Singapura, Amerika Serikat dan Inggris. Alumni Pondok Modern Gontor, HI Unpad, George Washington University dan Royal Holloway dan University of London. Bahkan penulis meniatkan sebagian royalti dari trilogi ini untuk membangun Komunitas Menara. Sebuah yayasan sosial yang berfungsi untuk membantu pendidikan orang yang tidak mampu, yang berbasiskan sukarelawan.
KELEBIHAN
Di buku ini penulis juga memberikan satu pesan khusus yaitu "Man Shabara Zafira"( siapa yg sabar akan beruntung)yang membuat pembaca menjadi lebih sabar dalam hidup ini.
KEKURANGAN
Kekurangan buku ini menurut saya cuma satu: Greget. Entah kenapa saya tidak mendapatkan greget untuk menebak-nebak dan ingin tahu kejadian berikutnya. Mungkin ini dikarenakan adanya peta Quebec, Amman, dan Bandung di bagian dalam cover buku itu sendiri. Sebenarnya adanya peta di bagian dalam cover ini menambah keren buku ini, namun di sisi lain juga mengurangi greget karena pembaca cenderung jadi bisa menebak ujung ceritanya. Meski begitu, kisah Alif ini masih menarik untuk disimak kok, apalagi jika pembacanya salah seorang yang ingin mendapatkan beasiswa ke Kanada seperti saya.

SARAN
Halaman lebih banyak dan waktu terbit antar novel dipercepat.hihihihihihihihihihih
Biodata Penulis
Ahmad Fuadi (lahir di Maninjau, Sumatra Barat, 30 Desember 1972; umur 38 tahun) adalah novelis, pekerja sosial dan mantan wartawan dari Indonesia. Novel pertamanya adalah novel Negeri 5 Menara yang merupakan buku pertama dari trilogi novelnya. Karya fiksinya dinilai dapat menumbuhkan semangat untuk berprestasi. Walaupun tergolong masih baru terbit, novelnya sudah masuk dalam jajaran best seller tahun 2009. Kemudian meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 dan tahun yang sama juga masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award, sehingga PTS Litera, salah satu penerbit di negeri jiran Malaysia tertarik menerbitkan di negaranya dalam versi bahasa melayu. Novel keduanya yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna telah diterbitkan sejak 23 Januari 2011. Fuadi mendirikan Komunitas Menara, sebuah yayasan sosial untuk membantu pendidikan masyarakat yang kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Saat ini Komunitas Menara punya sebuah sekolah anak usia dini yang gratis di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, setelah lulus menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya---yang juga wartawan Tempo-adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. [2] Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September 2001 dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Penyuka fotografi ini pernah menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.
Pendidikan
• KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo (1988-1992) Alumni Gontor 1992
• Program Pendidikan Internasional, Canada World Youth, Montreal, Kanada (1995-1996)
• National University of Singapore, Singapura studi satu semester (1997)
• Universitas Padjadjaran, Indonesia, BA dalam Hubungan Internasional, (September 1997)
• The George Washington University, Washington DC, MA dalam Media and Public Affairs (Mei 2001)
• Royal Holloway, Universitas London, Inggris, MA dalam Media Arts, (September 2005)
Penghargaan dan Beasiswa
• SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore, 1997
• Indonesian Cultural Foundation Inc Award, 2000-2001
• Columbus School of Arts and Sciences Award, The George Washington University, 2000-2001
• The Ford Foundation Award 1999-2000
• CASE Media Fellowship, University of Maryland, College Park, 2002
• Beasiswa Fulbright, Program Pascasarjana, The George Washington University, 1999-2001
• Beasiswa British Chevening, Program Pascasarjana, University of London, London 2004-2005
Pengalaman Profesional
Penulis dan Kolumnis bebas, 1992-1998
Menulis ratusan artikel mengenai peristiwa terkini untuk media massa di Indonesia
Wartawan dari CJSR 3 TV Communautaire, St-Raymond, Quebec, Kanada, 1995
Asisten Penelitian, School of Media and Public Affairs, George Washington University, Washington DC, 2000-2001
Asisten Penelitian, Center for Media and Public Affairs, Washington DC, 2000-2001
Bekerja di Pemanasan Global dan Budaya Pop Project.
Wartawan, Majalah TEMPO[6], Jakarta, Indonesia, Augustus 1998-2002.
Mengulas dan menulis berita aktual mulai dari politik, ekonomi sampai berita seni.
Internasional koresponden, Majalah TEMPO[7], Washington DC, Agustus 1999-September 2002
Mengulas peristiwa dan menulis cerita dari titik-titik utama di AS seperti Pentagon, Gedung Putih, dan Capitol Hill. Di antara highlight dari laporannya adalah: penulisan cerita dan tindak lanjutnya peristiwa 11 September dari Washington DC dan mewawancarai tokoh-tokoh seperti Colin Powell dan Paul Wolfowitz
Produser TV dan Editor, Voice of America, Washington DC, Mei 2001-Oktober 2002
Wartawan, Voice of America, Jakarta, November 2002 - November 2005
Spesialis Publikasi dan Informasi, USAID-LGSP (Local Governance Support Program)Desember 2005-Agustus 2007
Direktur Komunikasi, The Nature Conservancy (TNC) Agustus 2007-2009
The Nature Conservancy (TNC) sebagai salah satu organisasi konservasi terbesar di dunia, Bertanggung jawab untuk mengembangkan dan menerapkan strategi komunikasi untuk meningkatkan dan mempertahankan kesadaran masyarakat dan dukungan TNC. Publikasi dan mengkoordinasikan semua usaha pemasaran TNC di Indonesia. Managed hubungan media, media monitoring, identitas visual dan branding, internal / eksternal publikasi, dan manajemen risiko. Mewakili TNC di arena nasional dan internasional. Bekerja sama dengan berbagai staf TNC di lebih dari 30 negara di dunia.[9]
Ketrampilan Bahasa
Mempelajari 4 bahasa: bahasa Indonesia Inggris, Perancis dan bahasa Arab.
Pengalaman Mengajar
• Trainer, Humas, Publikasi, menulis, fotografi. USAID-LGSP (2006-2007). Dihadiri oleh staf lembaga bantuan dari 8 propinsi di Indonesia.
• Trainer, Workshop produksi TV, International Broadcasting Bureau-VOA, September 2005. Dihadiri oleh jurnalis TV / produsen dari 14 stasiun TV di Indonesia.
• Certified trainer DDI untuk pengembangan organisasi
• Speaker / fasilitator di berbagai negara seperti Kanada, Malaysia dan Amerika Serikat.
• Mengajar anak sekolah di berbagai tempat seperti: Virginia, AS, PM Gontor, Bandung, dll

Tidak ada komentar:

Posting Komentar